Arema dan Aremania, Singo Edan dari Stadion Kanjuruhan Malang, Loyalitas Tanpa Batas dalam Salam Satu Jiwa Aremania Aremanita.

Legenda Arema


Kuli Tinta Arema


Kisah Aremanita

Topics :

ADA AREMANIA LAMAR KEKASIHNYA JELANG KICK-OFF AREMA vs PERSEBAYA


Laga derby Jawa Timur antara Arema FC vs Persebaya Surabaya di pekan ke-24 Liga 1 2018, Sabtu (6/10/2018) sore bakal terasa spesial bagi salah seorang pentolan Aremania. Sosok yang masih dirahasiakan namanya itu bakal melamar calon istrinya di hadapan publik Stadion Kanjuruhan Malang sebelum kick-off pertandingan.

Momen bahagia itu memang sengaja diusung manajemen Arema selaku tuan rumah, mengingat laga ini tensinya sudah semakin meninggi di media sosial ketika mendekati hari H. Tujuannya, selain berbagi kebahagiaan, tentu untuk sedikit menurunkan tensi tinggi berbalut rivalitas tersebut.

"Kami ingin acara besok ini jangan terlalu tegang lah, makanya kami di sini ingin berbagi kebahagiaan dengan salah seorang pentolan Aremania yang akan melamar calon istrinya di stadion," ujar Sudarmaji, Media Officer Arema.

Menurut pria asal Banyuwangi itu, momen ini sudah direquest oleh si Aremania sejak sebulan yang lalu kepada direksi Arema langsung. Kemudian, jajaran direksi memberikan lampu hijau dan mengizinkan Panpel Arema untuk memasukkan agenda lamaran ini dua jam sebelum kick-off laga Arema vs Persebaya.

"Agenda ini sudah kami sampaikan di MCM (Match Coordination Meeting), tidak ada masalah, sudah ada izinnya asal tidak masuk dalam rundown acara, mengingat laga ini disiarkan langsung oleh televisi," imbuh pria 41 tahun itu.

Menariknya, semua yang ada di dalam stadion kabarnya akan dilibatkan dalam momen lamaran oleh salah seorang pentolan Aremania tersebut. Termasuk para penggawa Singo Edan.

"Makanya besok pemain direncanakan akan datang ke stadion lebih awal, ini demi mengikuti kegiatan lamaran tersebut, kita semua yang ada di stadion akan jadi saksi bersama kebahagiaan pasangan Aremania dan Aremanita," tandasnya.


ADA AREMANIA LAMAR KEKASIHNYA SAAT AREMA vs PERSEBAYA 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

FIKSI: SATU JIWA DARI DUNIA LAIN


"Woy, minum dulu, Roy!" ucap Pras sembari menepuk pundak Roy dan menyodorkan sebotol air mineral pada sahabatnya itu.

"Eh, ya. Thank's." Roy tersenyum lalu mengambil air mineral yang diberikan Pras. Pemuda 25 tahun itu meminum beberapa teguk air dari dalam botol, sebelum akhirnya kembali fokus pada aktivitasnya semula.

Ya, kedua pemuda sebaya itu kini sedang duduk di atas salah satu tribun Stadion Kapten Dipta Bali. Lengkap dengan atribut serba biru dan kamera digital di tangan masing-masing, mereka menantikan Arema, tim yang mereka bela, memasuki lapangan pertandingan sore itu.

Tak hanya Roy dan Pras yang sengaja datang dari Malang untuk melihat langsung laga pada Senin sore tersebut. Ada pula ratusan Aremania lain yang turut membirukan tribun. Baik yang berasal dari Malang, Bali, maupun kota-kota di sekitarnya. Sehingga bukan hal yang mengherankan jika suasana dalam stadion begitu riuh karena nyanyian yel-yel penyemangat.

Beberapa kali Roy mencuri waktu untuk melihat jam tangannya. Pertandingan yang dinantinya, dimana Persiram akan berhadapan dengan Arema, akan dimulai sekitar satu jam lagi. Tidak menjadi masalah bagi pemuda itu, jika harus menunggu di bawah terik matahari sore berjam-jam lamanya.

"Asli Ngalam, Sam?" terdengar sapa seseorang dengan nada serak dari samping kanan Roy.

Roy menoleh, "Oh, iya, Sam." jawabnya singkat.

"Ayas Benadi. Arema Dewata." lelaki itu memperkenalkan diri.

"Ayas Roy. Salam kenal, Sam."

"Umak Aremania?" tanya lelaki yang mengenakan kaos Arema Dewata itu. Perkiraan usianya mungkin sekitar awal 30-an.

Roy mengernyitkan dahi heran. Dalam hati ia bertanya, apakah penampilannya yang mengenakan kaos dan syal Arema, ditambah lagi statusnya yang memang asli warga Malang tidak cukup memberikan jawaban atas pertanyaan singkat itu? Jujur saja, Roy jadi agak tersinggung.

Alih-alih menjawab, pemuda yang kini berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Brawijaya itu lebih memilih untuk memotret suasana stadion dengan kamera digitalnya. Ia mengabaikan pertanyaan orang yang baru dikenalnya itu.

Merasa bahwa pertanyaannya mungkin telah menyinggung perasaan Roy, lelaki misterius tersebut mengalungkan tangan kirinya di pundak Roy. Beberapa kali ditepuknya lembut pundak Aremania yang sibuk dengan kamera digitalnya itu sebagai tanda ucapan minta maaf.

"Salam Satu Jiwa!" begitulah kata-kata lantang yang meluncur dari mulut Ben.

Mau tak mau, Roy pun membalasnya, "Salam Satu Jiwa!"

Dalam beberapa detik, Roy mengamati Ben yang kini telah larut pada nyanyian dan koreografi Aremania lain yang terlihat apik. Roy merasa ada yang aneh dengan lelaki yang baru ia temui itu. Sorot matanya saat bertanya apakah dirinya seorang Aremania begitu menusuk ke manik matanya, juga hatinya. Ia merasa seperti ada hal yang ingin ditegaskan oleh Ben padanya. Entahlah!

Satu jam berlalu, akhirnya kedua tim memasuki area pertandingan. Para pemain berbaris di tengah lapangan hijau seraya berdo'a lalu saling berjabat tangan. Usai berjabat tangan satu sama lain, peluit ditiup lantang oleh wasit pertanda kick off babak pertama dimulai. Aremania yang hadir di stadion kini sepenuhnya fokus pada tim kesayangan mereka mengolah si kulit bundar. Namun, bukan berarti mereka berhenti bernyanyi dan menari di atas tribun.

Sama seperti yang lain, Roy hanyut pada nyanyian yang membakar semangat menggebu dalam jiwanya. Ia tak memerdulikan keadaan di sekitarnya. Saat itu, ia merasa bahwa jiwanya terpanggil untuk memberikan suntikan semangat pada sang Singo Edan.

Sayang, pada 45 menit pertama, Arema kalah serangan dari tim lawan. Hasil kacamata tak berubah hingga jeda turun minum. Hal ini tentu membuat Aremania merasa sedikit kecewa. Begitu pula dengan Roy yang menatap lesu lapangan.

"Harusnya ada rotasi pemain. Minimal biar nggak kalah serangan begini." komentar Pras yang juga terduduk lesu di samping kiri Roy. Sesekali ia mengebas-ngebaskan syal yang melingkar di lehernya.

"Semoga aja bisa bangkit di babak kedua." timpal Roy singkat dengan suara serak.

Tak sengaja, Roy menoleh ke sebelah kanannya. Ia tak melihat Ben di sampingnya seperti sebelum pertandingan berlangsung. Dengan seulas senyum mengejek, Roy beralih memandang jauh lapangan hijau.

"Ngakunya Aremania. Baru babak pertama aja udah ninggalin tribun." gumam Roy dalam hati.

Pemuda itu berpendapat bahwa Ben meninggalkan tribun karena permainan Arema 'tak seperti biasanya'. Apalagi score masih 0-0.

Babak kedua. Aremania kembali menyuarakan nyanyiannya dengan harapan dapat membangkitkan semangat para penggawa Arema.

Benar saja, rotasi pemain dilakukan Coach Suharno. Permainan Arema mulai hidup. Tak sekedar hidup, Arema berhasil menyarangkan dua gol melalui Samsul Arif dan Gonzales. Score akhir 2-0 atas kemenangan Arema menjadi penawar rasa letih para Aremania yang sedari tadi menanti dengan harap-harap cemas.

"Alhamdulillah.." Roy bernafas lega seperti yang lain.

Sekali lagi, ia menoleh ke samping kanannya. Ia tetap tak melihat Ben di sana. Hanya ada Arema Dewata lain yang menggantikan posisi Ben.

"Maaf, umak kenal Sam Benadi?" dengan rasa penasaran, Roy menanyai orang di sampingnya.

Lelaki sepantaran Roy itu pun menoleh, "Sam Benadi? Iya, ayas kenal sama almarhum."

"Almarhum?" Roy tak mengerti maksud lelaki itu. Dahinya berkerut samar.

"Iya, Sam. Beliau meninggal dua tahun lalu. Kita merasa sangat kehilangan. Apalagi meninggalnya bisa dibilang nggak wajar. Tragis. Umak kenal Sam Benadi?" tanyanya dengan raut sedih seperti mengingat masa-masa yang sulit.

"Iya, kenal.." mengucap kata 'kenal' membuat Roy merinding, "Maksudnya, tragis?"

"Gini Sam... Dua tahun lalu, Sam Benadi hadir di Kanjuruhan untuk menonton langsung Arema. Dia datang sendiri, karena Arema Dewata tidak mengadakan tour." kenang lelaki itu, "Di Malang, dia berencana menginap di rumah yang katanya milik kenalannya, Aremania. Tapi, sehari setelah dia sampai di Malang, dia ditemukan dalam keadaan luka-luka di pinggir jalan oleh warga sekitar."

Roy mendengarkan dengan seksama. Ia dapat merasakan bahwa keringat dingin mengalir turun dari keningnya, dadanya pun bergemuruh. Namun, ia berusaha untuk bersikap tenang.

"Sam Benadi sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa jam. Tapi,..." lelaki itu tak melanjutkan kata-katanya.

"Apa dia meninggal karena dirampok?" tanya Roy penasaran.

"Tidak. Tidak ada barangnya yang hilang saat itu. Hanya saja, sebelum Sam Benadi meninggalkan kami semua, dia sempat bercerita.. Ia didatangi beberapa orang berkaos Arema di perbatasan Malang-Pasuruan. Sam Benadi yang juga beratribut Arema awalnya tidak curiga karena menurutnya mereka adalah Aremania. Tapi, dia mulai curiga saat salah satu diantaranya membawa sejenis parang. Lalu, yang Sam Benadi tahu hanya rasa ngilu di sekujur tubuhnya, darah segar mengalir, akhirnya tak sadarkan diri." tutur lelaki itu dengan kilat kemarahan terpancar dari sepasang matanya.

Deg. Jantung Roy seperti berhenti mendengar penjelasan itu. Pikirannya berkecamuk antara rasa tak percaya juga emosi. Lalu, siapa yang ia temui dan mengajaknya mengobrol beberapa waktu lalu?

Tidak! Roy yakin dirinya tidak berhalusinasi. Apa yang baru saja ia alami adalah nyata. Bahkan, sangat nyata.

"Umak Aremania?" pertanyaan itu terlintas dalam pikirannya yang kalut.

Kini, perlahan Roy mulai mengerti maksud dilayangkannya pertanyaan itu padanya. Mungkin, Ben ingin menegaskan padanya bahwa tak semua orang yang beratribut Arema, bahkan lahir di Malang sekalipun adalah seorang Aremania. Bisa jadi ada yang menggunakan identitas sebagai 'Aremania' untuk membuat kerusuhan, sehingga pandangan orang awam terhadap Aremania menjadi negatif. Ya, bisa jadi!

Roy memejamkan matanya selama beberapa saat, ia menghela nafas panjang. Pemuda itu jadi teringat kata-kata ayahnya yang juga seorang Aremania, "Le, dadi supporter iku angel iso nyandang status 'supporter kipa'. Ben iso dipandang kipa yo dowo dalan'e. Tapi, luwih gampang ngancurno identitas kipa sing angel dibangun kuwi."

Ya, kenyataannya memang demikian. Sangat sulit membangun imej baik kelompok supporter di kalangan masyarakat awam. Tapi, karena satu tindakan buruk yang dilakukan bisa menghancurkan imej tersebut dalam sekejap saja.

Langit kini mulai menghitam, matahari sore telah menutup diri dan beristirahat di peraduannya. Roy bangkit, meregangkan kaki dan tangannya yang terasa kaku. Sungguh, hari ini adalah hari paling melelahkan bagi Roy. Bukan karena ia kehabisan tenaga untuk bernyanyi bersama kawan-kawannya di atas tribun, tapi lebih menjurus pada pikirannya yang harus menjabarkan satu persatu kaitan peristiwa aneh di hari itu.

"Pras..." ucap Roy.

Pras yang sedari tadi sibuk dengan gadget-nya jadi menoleh, "Ya?"

"Aremania tidak dinilai dari kaos yang dia kenakan, syal yang melingkar di lehernya, atau bahkan asal kelahirannya sekalipun. Tapi, Aremania murni lahir atas rasa turut memiliki juga murni karena panggilan jiwa, dan itu tidak dimiliki oleh semua orang. Iya, kan?"

Pras turut bangkit lalu tersenyum takjub di samping Roy. Ia menepuk pundak sahabatnya itu, "Ya, aku sependapat denganmu."

TAMAT
KARYA: Riska Suci Rahmawati

Cerita di atas hanyalah karangan belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, atau kejadian, itu hanyalah suatu kebetulan


FIKSI: SATU JIWA DARI DUNIA LAIN 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

BOBOTOH GEULIS AMAN AWAYDAY KE KANJURUHAN


Siapa bilang Bobotoh tidak aman melakoni tur awayday ke Stadion Kanjuruhan Malang, kandang Arema FC? Faktanya, di laga bertajuk big match antara Arema FC vs Persib Bandung di pekan ke-19 Liga 1, Sabtu (12/8/2017) malam, ada sosok Bobotoh geulis yang terselip di antara lautan biru Aremania yang memadati tribun.

Adalah sosok Bella Dwi Lestari, Bobotoh geulis yang mengunggah fotonya di depan Stadion Kanjuruhan pada akun Instagram pribadinya, @belladeel33. Bella yang mengakui ini merupakan awayday keduanya, diketahui datang dari Cirebon dan ke stadion bersama nawak-nawak Aremania yang dikenalnya.

"Awalnya berangkat dari Cirebon sendirian dan di gerbong lain ketemu teman sendiri. Pas sampai stasiun diamankan sama anak-anak #Aremania dan malam itu saya bermalam di kediaman #Aremanita, semua itu akan terasa lebih indah. Saya pribadi di sini merasa pada titik aman, artinya di Malang mereka (Aremania) respek kepada para (Bobotoh) yang ke Malang," tulis Bella dalam caption fotonya.

Masih menurut Bella, permusuhan antara Aremania dan Bobotoh itu hanya dalam 2x45 menit di dalam stadion, lebih dari itu keduanya sudah seperti saudara. Mendukung tim kebanggaan itu tidak harus dengan saling mencaci antar suporter tim lain. Pesannya, buat siapa pun Bobotoh yang berada di kota mana saja, perlu mengetahui bahwa tidak semua Aremania itu seburuk apa yang mereka lihat.

"Mereka yang melakukan kekerasan adalah mereka yang belum terbuka pintu hatinya, doakan saja untuk mereka, serahkan semuanya kepada Allah, masih banyak di luar sana Aremania yang memiliki hati nurani, terimakasih Aremania," imbuhnya.

Diceritakannya, Bella sempat hampir terkena sweeping di depan Hotel Savana ketia ia bersama anak Viking Sidoarjo dan Viking Cilacap. Namun, dara manis itu langsung menghubungi anak Aremania yang dikenalnya untuk segera datang ke hotel. Akhirnya mereka mengamankan Bella dan rekan-rekannya. Terimakasih banyak Aremania.

BOBOTOH GEULIS AMAN AWAYDAY KE KANJURUHAN 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Aremania & Semeton Bergoyang di Satu Tribun


Aremania dan Semeton Dewata bergoyang bersama di satu tribun di Stadion Kapten Dipta Gianyar dalam laga Bali United Pusam vs Arema, Sabtu (14/3) malam. Kedua kelompok suporter tetap kompak meski mendukung tim kebanggaan masing-masing.

"Rencana awal, Aremania oleh Panpel ditempatkan di Gate 3 dan 13, terpisah oleh tribun VIP. Ternyata Panpel miskomunikasi," terang Badrus Sholihul Hidayat, salah satu pengurus Arema Dewata kepada WEAREMANIA.

Gate 3 dan 13 yang semula disiapkan Panpel untuk Aremania ternyata sudah diisi oleh suporter tuan rumah, Semeton Dewata. Kapasitas dua tribun itu juga hampir full oleh suporter tuan rumah yang hadir untuk mendukung Bali United Pusam.

"Kondisi ini memaksa Panpel memasukkan sekitar 5000-an Aremania ke Gate 12 yang masih dihuni oleh sedikit suporter tuan rumah. Gate 12 pun diisi 90 persen Aremania yang akhirnya bergoyang bersama Semeton Dewata," imbuh Aremania asli Gondanglegi, Kabupaten Malang tersebut.

Di laga pamungkas Arema di Bali Island Cup 2015, kala menghadapi Persiram Raja Ampat, Senin (16/3) Badrus berharap tak ada lagi miskomunikasi dengan Panpel. Rencananya, Aremania akan ditempatkan di Gate 12, sementara Gate 13 disiapkan sebagai tribun cadangan.

Aremania & Semeton Bergoyang di Satu Tribun 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Enam WAGs Satu Jiwa Dukung Arema di Bali


Tak hanya Aremania yang menemani Arema di Bali Island Cup 2015 kala menghadapi Bali United Pusam, Sabtu (14/3) malam. Sebab, enam WAG's (Wife And Girlfriends) pemain turut hadir di Stadion Kapten Dipta Gianyar.

Keenamnya adalah Adirsti Dyah (istri Hendro Siswanto), Vivi Rezky (istri Dendi Santoso), Evie Wulandari (pacar Gede Sukadana), Mira (pacar Hasyim Kipuw), Jeni (istri Kadek Wardana), dan Dita (pacar Ferry Aman Saragih).

Mereka berenam duduk di tribun VVIP stadion untuk memberikan dukungan langsung kepada Arema, khususnya pada pasangan masing-masing. Mereka tampak antusias ketika pasangan mereka masuk line-up, kecuali FAS yang baru dimainkan di babak kedua.

"Kami ke Bali dalam rangka mendukung Arema, bukan untuk liburan. Kita akan nonton pertandingan sampai hari Senin (laga terakhir Arema vs Persiram Raja Ampat)," terang Adirsti kepada WEAREMANIA.

"Kalau saya pribadi tidak ada agenda liburan setelah turnamen ini, saya datang ke sini murni untuk dukung suami dan Arema, lagipula agenda pemain kan juga padat di sini, jadi tidak sempat ajak liburan, malah takut ganggu nanti," pungkasnya.

Enam WAGs Satu Jiwa Dukung Arema di Bali 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Aremania & Semeton Dewata Sebarkan Virus Perdamaian


Aremania dan kelompok suporter Bali, Semeton Dewata sepakat menyebarkan virus perdamaian. Mereka sama-sama ingin memerangi provokator dalam dunia suporter di Indonesia.

Kedua klemopok suporter hadir berdampingan di Stadion Kapten Dipta, Gianyar. Aremania dan Semeton Dewata menyaksikan laga Bali United Pusam vs Arema dalam lanjutan turnamen Bali Island Cup 2015, Satu (14/3).

Jeda pertandingan tersebut mereka manfaatkan untuk mempererat tali persaudaraan antar kedua kelompok suporter. Kedua kelomppok suporter tersebut saling bertukar cenderamata berupa syal.

Secara kompak mereka juga mengarak banner bertuliskan Jangan biarkan provokator merusak persaudaraan kita keliling lapangan. Banner itu mendapatkan sambutan meriah dari rekan-rekan suporter di atas tribun.

"Semoga dengan adanya tur ini antara Aremania dan Semeton Dewata terjalin silaturahmi yang baik," ungkap Hendrik Sapulete, salah satu Aremania, seperti dilansir laman AremaFC.

Aremania & Semeton Dewata Sebarkan Virus Perdamaian 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Ketika Aremania Birukan Kandang PSBK Blitar


Kota Blitar diklaim sebagai salah satu basis berkumpulnya Aremania. Maka tak heran jika kelompok suporter Arema itu membirukan Stadion Supriyadi kala timnya berujicoba dengan PSBK, Selasa (3/3).

Tribun stadion berkapasitas 15 ribu orang itu separuhnya diisi suporter berkaus biru sejak pukul 14.00 WIB. Bahkan mereka tak hanya berasal dari kawasan Blitar Raya saja.

Aremania Kediri, Aremania Tulungagung, Aremania Trenggalek, dan Aremania Madiun terlihat memasang spanduk mereka di tepi lapangan. Belum lagi Aremania yang datang dari Malang.

"Perkiraan jumlahnya lima ribuan orang. Tidak tampak full karena bagian utara dan selatan tidak ada tribunnya," ujar Ian Setiawan, salah seorang Aremania Onosogrem kepada WEAREMANIA. Dia sendiri datang ke Blitar dengan sepeda motor.

Dalam laga ujicoba yang sempat diguyur hujan itu, Aremania sempat kecewa karena tim A Arema yang didominasi pemain pelapis dipermak PSBK A 1-0. Namun di laga kedua tim B Arema sukses membalas dengan mengalahkan PSBK B 3-0.

Ketika Aremania Birukan Kandang PSBK Blitar 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Ongis Sinam Dari Blitar Untuk Arema


Tak ada syarat harus arek Malang asli untuk menjadi suporter Arema, atau yang lazim disebut Aremania. Hal tersebut persis seperti yang dialami oleh Aremanita bernama Tikka Dessy Harsanti ini.

Meski lahir di Blitar pada 4 Desember 1991, Tikka dengan bangga menyebut dirinya sebagai Aremanita, sebutan untuk suporter wanita Arema. Bahkan gadis 23 tahun itu tak segan menunjukkan kebanggaannya tersebut.

Banyak hal yang telah dilakukan gadis yang mengaku mewarisi darah sebagai pecinta sepak bola dan Arema dari sang Ayah itu. Salah satunya tentu dengan memberikan dukungan langsung di Stadion Kanjuruhan Malang kala Arema bermain.

Waktu SMA, sepulang sekolah Tikka sering menyempatkan hadir ke Kanjuruhan bersama teman-temannya. Padahal waktu itu mereka pulang sekolah pukul 14.00 WIB, sementara itu Arema main pukul 15.30 WIB.

"Pulangnya sampai Blitar pun malam pukul 21.00 WIB. Ayah tidak tega kalau melihat anaknya datang langsung ke Kanjuruhan dan ikut berdesak-desakan," ungkapnya.

Setiap kali ditanya oleh sang Ayah, dari mana seharian tidak pulang, Tikka pun terpaksa berbohong dengan dalih belajar kelmpok atau ada bimbingan belajar. Sebelum sampai rumah, dia sudah mengganti baju dan atribut Aremanianya di pom bensin.

Sebagai wujud cintanya pada Arema, maka setelah lulus dari bangku SMA, Tikka mengambil kuliah di Malang. Keinginannya itu sempat ditentang oleh orang tuanya yang selalu khawatir dengan kondisi putri cantiknya.

"Waktu itu sempat terjadi konflik dengan orang tua saya, terutama dengan Ayah. Saya pun tetap bersikeras agar bisa kuliah di Malang, demi lebih dekat dengan Arema," kata mahasiswa Universitas Wisnuwardhana Malang tersebut.

Bagi gadis alumni SMA Negeri 2 Blitar itu, pengalaman paling buruk di Kanjuruhan adalah saat musim hujan. Tikka pernah berbasah-basahan ria di tribun bersama suporter Arema lainnya.

Kala itu handphone yang baru dibelinya rusak karena hujan deras, padahal sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik. Keadaan siang itu memang hujan deras mulai dari dia berangkat, di stadion, bahkan sampai pulang keadaan tetap hujan.

"Walaupun pakai mantel tapi tetap tembus sampai baju saya basah. Alhasil sampai kos-kosan saya masuk angin. Besoknya saya izin sakit karena tidak memungkinkan untuk kuliah. Lagi-lagi demi Arema dan itu tak menyurutkan semangat saya. Hahaaa.." selorohnya.

Menurut Tikka, kecintaannya pada Arema itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan dia lebih memilih Arema daripada cowoknya yang kebetulan suka bola dan Arema, tapi tak sefanatik dirinya.

Setiap ada pertandingan Arema mereka sering bertengkar, karena Tikka yang ingin hadir langsung ke Kanjuruhan, tak diizinkan oleh si cowok. Mungkin karena dia terlalu khawatir, makanya Tiikka disuruh nonton lewat TV saja.

"Tapi saya bersikeras untuk tetap hadir di Kanjuruhan. Slogan 1% Ojobku, 99% Arema memang pas sekali. Sampai dia memberikan pilihan: Arema atau dia. Saking cintanya sama Arema saya tetap pilih Arema," tegasnya.

"Banyak sekali pengalaman berkesan saat membela tim kesayangan. Bukannya sombong, pas lihat di VIP atau VVIP saya sering ke-shoot oleh kamera. Teman-teman, dan keluarga yang jauh ikut senang, walaupun jadi artis cuma beberapa detik," ujarnya.

Dari situlah Tikka terkenal di kalangan adik-adik dan kakak-kakak tingkat di kampusnya sebagai "Mbak Aremanita". Ya, Ongis Sinam (Singo Manis) dari Blitar yang datang ke Malang demi kecintaannya dalam mendukung Arema.

"Inilah saya apa adanya. Cinta Arema dan sampai kapan pun tetap ada untuk Arema. Mungkin cerita di atas kurang menarik, tapi bagi saya setiap ada Arema pasti ada cerita yang berkesan," tutupnya.

Ongis Sinam Dari Blitar Untuk Arema 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Ketika Aremania Taklukkan Kandang Bonek


Aremania tak hanya suporter jago kandang, saat Arema bermain away pun suporter setia mereka hampir bisa dipastikan akan selalu menemani. Satu laga away yang mungkin tak akan pernah terlupakan adalah saat Aremania menaklukkan Stadion Gelora 10 November, 16 November 1997 silam.

Dilansir dari Jawa Post, segerombolan Aremania beratribut lengkap membirukan kandang Bajul Ijo dalam laga Persebaya Surabaya kontra Arema. Berikut ini cuplikan suasana laga pembuka Liga Indonesia 1997-1998 yang berakhir dengan skor kacamata tanpa pemenang tersebut.

Pemandangan Aneh di Tambaksari, Suporter Arema Aman Berjingkrak.

Fenomena menarik di Gelora 10 November saat pertandingan Persebaya vs Arema, kemarin sore. Tak seperti biasanya, segerombolan suporter yang lengkap dengan atribut Arema berani memasuki stadion.

Bahkan, mereka berjingkrak-jingkrak, meneriakkan yel-yel, dan memukul genderang untuk memberi semangat kepada Juan Rubio dan kawan-kawan. Yang menarik lagi, puluhan suporter berkaos biru-biru warna kesayangan tim Arema-- itu aman-aman saja di stadion. Mereka bergerombol di pojok sebelah kiri tribun VIP dan terpisah dari sekitar 20 ribu suporter Green Force yang memadati stadion itu, dengan pengawalan ketat belasan petugas. Tontonan seperti ini tak pernah terjadi selama Ligina.

Kalau toh ada suporter yang setia membuntuti timnya, biasanya dengan cara diam-diam menyusup ke penonton. Tanpa atribut, apalagi meneriakkan yel. Tapi, kemarin tidak. Mereka seperti mendukung di Stadion Gajayana saja. Syukurlah.

Apakah ini pertanda suporter kita sudah bisa bersatu? Entahlah. Yang jelas, kemarin, kita bisa melihat suporter Persebaya yang arif. Di lapangan, praktis tak ada aksi lempar. Paling banter, puluhan ribu suporter itu hanya meluapkan kekesalan dengan mengatai wasit.

Dan, puncak kearifan mereka terlihat dari sikap mereka terhadap segerombolan suporter Arema. Suporter Persebaya hanya mengolok-olok, tanpa melakukan aksi-aksi kekerasan seperti dulu. Tak ada lempar-lemparan, tak ada adu jotos atau aksi pukul. Ini perkembangan menarik. Suporter Arema luar biasa berani, dan ternyata suporter Persebaya cukup arif kata mantan bendahara Mitra, Ali Mahakam, yang menyaksikan pertandingan dari tribun VIP.

Yang patut diacungi jempol, tentu saja, juga Panitia penyelenggara pertandingan. Panitia bisa memasukkan segerombolan suporter beratribut Arema itu dengan aman. Panitia juga berhasil menyediakan tempat khusus buat mereka di pojok kiri atas VIP. Pintarnya, agar tak sempat bentrok kalau ada apa-apa, para suporter itu sudah dikeluarkan dari stadion 20 menit menjelang bubaran.

Bagaimana sebenarnya koordinasi para suporter Arema itu? Ternyata, puluhan suporter itu memang dikoordinasi langsung oleh Dandim Kota (Malang) Letkol Inf Sutrisno yang juga ketua PS Arema dan Ivan Tobing. Mereka berangkat dari stasiun kereta api Kota Baru pukul 10.00 WIB dengan kawalan petugas.

Harapan kita, hal seperti ini tak hanya terjadi kemarin. Tapi, juga di pertandingan-pertandingan lainnya, saat Mitra menjamu Persema, Rabu nanti, atau saat Green Force dan Mitra tandang ke Malang. Bisakah di putaran kedua ganti suporter Persebaya ngluruk ke kandang Arema dengan suasana yang aman? Jawabnya, pasti bisa.

Ketika Aremania Taklukkan Kandang Bonek 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Aremania Birukan Stadion Surajaya Lamongan


Jalur keberangkatan dan pulang rombongan tret-tret Aremania ke Stadion Surajaya Lamongan langsung diamankan. Jika biasanya dilakukan dengan berbagai jalur, maka jalur kepulangan Aremania ke Lamongan menggunakan rute Lamongan-Babat-Jombang-Batu-Malang.

Dari tahun ketahun, jalur berputar ini memang dinilai efektif untuk menghindari bentrokan di tol dengan oknum suporter di Surabaya yang notabenenya dikenal tidak akur. Sehingga meski berjarak lebih dari 1,5 jam dari perjalanan normal, yang terpenting adalah keselamatan dari rombongan Aremania itu.

"Alhamdulillah, tidak ada gangguan yang membuat masalah saat perjalanan Aremania ke Lamongan atau saat kepulangannya," kata humas tur Aremania, Ahmad Gozali.

Pria yang akrab disebut AK ini menyatakan jika sekitar 1000an Aremania nglurug ke Lamongan untuk memberikan dukungan langsung kepada Cristian Gonzales cs.

Sementara itu, di sisi selatan, sempat terjadi sedikit bentrok dengan polisi di Lamongan akibat masalah pendekatan yang keras dari oknum polisi saat gol dari Alberto Goncalves, beberapa oknum polisi memukul Aremania yang turun ke sentel ban saat menyambut selebrasi dari pemain asal Brasil itu.

Insiden itu reda usai AK dan beberapa Aremania lain meredakan situasi. Meskipun demikian secara keseluruhan, atmosfer yang tercipta antara Aremania dan LA Mania ini berjalan dengan lancar seusai pertandingan.

Aremania Birukan Stadion Surajaya Lamongan 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

VIDEO: Takbir Kemenangan Aremania Bergema di Kanjuruhan


Ada yang spesial dari kemenangan Arema atas Semen Padang di babak 8 besar Indonesia Super League (ISL) 2014, Sabtu (4/10). Tiga poin itu disambut dengan gema takbir kemenangan Aremania di tribun Stadion Kajuruhan Malang.

Laga tersebut memang bersamaan dengan bergulirnya Hari Raya Idhul Adha 1435 Hijriyah. Maka tak heran jika para suporter fanatik Arema itu mengumandangkan takbir untuk merayakan kemenangan Arema.

"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Lailaha ilallahu wallaahu akbar. Allahu akbar walillahilham," lantunan takbir pun terdengar begitu wasit Suharto meniup peluit panjang yang mengakhiri pertandingan tersebut.

Kemenangan 2-1 sukses dibukukan skuat Singo Edan lewat dua lesakan gol Samsul Arif di menit 7' dan 79'. Kabau Sirah hanya mampu membalas satu gol melalui aksi Nur Iskandar empat menit jelang bubar.

Tiga poin absolut di kandang sendiri ini menempatkan Ahmad Bustomi dkk di posisi runner-up Grup 1 dengan koleksi 3 poin. Sebab, di laga sebelumnya, Persipura Jayapura berhasil menjinakkan tamunya, Persela Lamongan 2-0.


Takbir Kemenangan Aremania Bergema di Kanjuruhan 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

"GOD SAVE GAZA" By Aremania


Wearemania.net - Ada aksi yang berbeda yang ditunjukkan oleh Aremania saat laga tim nasional Indonesia melawan U-23. Di dua sisi tribun yaitu utara dan selatan ada bentangan spanduk yang memberikan dukungan kepada warga Palestina.

Dukungan itu disuarakan dengan spanduk-spanduk yang bertuliskan 'God Save Gaza', 'Free Palestine' dan 'Free Gaza'. Sebuah dukungan untuk Palestina yang saat ini sedang dihajar oleh tentara Israel.


Manajemen Arema melalui Sudarmaji memberikan apresiasi atas adanya spanduk dukungan ini. Karena memang memang faktanya Palestina adalah negara yang sudah banyak memberikan dukungan kepada Indonesia.

"Kami salut kepada Aremania. Mereka bukan hanya memberikan dukungan kepada tim Arema. Tapi juga menunjukan simpatinya kepada saudara di Palestina," kata Sudarmaji dilansir dari laman resmi klub.


"GOD SAVE GAZA" Ala Aremania 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Tour Gresik Aremania dan Segala Kisahnya


Entah kenapa, Tour Gresik bagi Aremania selalu terasa "spesial" tiap musimnya. Mungkin karena Arema dan Gresik United sama-sama berasal dari Jawa Timur. Mungkin juga karena sambutan hangat suporter tuan rumah, Ultrasmania Gresik yang juga selalu tak pernah melewatkan kesempatan Tour ke Malang mendukung tim mereka.

Namun sesungguhnya sensasi Tour Gresik bukan ada di situ. Alasan di atas hanyalah sebagian dari kisah Aremania selama di kandang lawan. Hal yang paling tak akan pernah bsa terlupakan dalam Tour Gresik tentu adalah cerita-cerita selama berada di perjalanan dari Malang hingga menuju Gresik.

Perjalanan Aremania dari bhumi Arema menuju Stadion Tri Dharma bisa dibilang menegangkan, karena melewati basis suporter rival, Bonek, yaitu Surabaya. Mereka tak pernah absen "menyapa" Aremania dalam Tour Gresik setiap musimnya. Sapaan khas rival berupa aksi sweeping kendaraan plat N (Malang), lemparan batu hingga bom molotov rakitan seolah menjadi makanan ringan bagi Aremania selama di perjalanan.

Tour Gresik musim 2014 kali ini tercatat hingga 100 lebih oknum suporter yang diduga Bonek diciduk aparat Polrestabes Surabaya. Hal itu dilakukan oleh karena ulah mereka sendiri yang frustrasi tak menemukan Aremania yang dicari dalam sweeping. Akhirnya amarah pun dilampiaskan dengan menghancurkan kendaraan berplat N (Malang), bahkan menyerang polisi.

Sementara itu Aremania melenggang santai ke Gresik tanpa ada korban jiwa. Sang rival bilang Aremania banci karena mendapat kawalan kepolisian. Bukankah itu sudah tugas kepolisian untuk mengayomi masyarakat, termasuk Aremania? Lebih banci mana dengan perilaku primitif yang justru berbuat onar di kota sendiri dengan dalih menjaga keamanan kota?

Kebrutalan oknum yang diduga Bonek ini sempat meminta korban dua motor milik Aremania yang dirampas di daerah Bundaran Waru. Alkisah, enam Aremania yang menuju Gresik, Rabu (04.06) malam dengan menggunakan tiga motor tiba-tiba dihadang segerombolan Bonek. Dua orang sempat menyelamatkan diri menggunakan satu motor. Sementara empat kawannya menjadi bulan-bulanan para oknum yang tak bertanggung jawab. Dua motor yang tersisa pun disikat.

Peristiwa ini memberikan pelajaran kepada kita Aremania agar selalu waspada dalam setiap tur. Dalam "tur maut" seperti Tour Gresik ini, hendaknya kita berangkat bersama-sama menggunakan kendaraan besar, minimal mobil, dengan tujuan agar bisa lebih saling menjaga keselamatan satu sama lain.


Tour Gresik Aremania dan Segala Kisahnya 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

VIDEO: ONE INCREDIBLE BLUE, SIMBOL PERSATUAN AREMANIA


Jika diterjemahkan secara harfiah, maka One Incredible Blue ini bermakna satu biru yang luar biasa. Tak mengherankan jika aksi kolosal itu menggemparkan Stadion Kanjuruhan Malang dalam laga Indonesia Super League (ISL) 2014, Minggu (25/5) saat Arema menjamu Persib Bandung.

Secara global, One Incredible Blue ini terdiri dari lima unsur yang menjadi satu dalam diri Aremania yang menyajikannya. Mulai dari menyatukan doa, bendera, ketukan bass dan snare drum, nyanyian, sampai gerakan tangan dan badan Aremania.

Meskipun Arema belum berhasil mengalahkan Persib, karena hanya menuai hasil imbang 2-2, namun setidaknya misi One Incredible Blue bisa dibilang tercapai. Melalui momen tersebut, kekompakan antar korwil dan komunitas Aremania tampak dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan.

Jika ditotal dari proses perencanaan, One Incredible Blue ini sendiri memakan waktu kurang lebih enam bulan. Persiapan terakhir demi lancarnya atraksi ini sempat digeber Aremania di Kanjuruhan, Jumat (23/5) malam.


Tepat 15 menit jelang kick-off pertandingan Arema kontra Persib, atraksi kolosal One Incredible Blue dibuka dengan intro dari para penabuh drum yang dipimpin oleh Pak No. Atraksi dilanjutkan dengan lagu Salam Satu Jiwa tanpa iringan musik yang dipimpin oleh sang dirijen Yuli Sumpil.

Begitu para pemain Arema dan Persib memasuki lapangan, dentuman drum pun menggema mengiringi lagu Salam Satu Jiwa. Aremania satu Kanjuruhan pun bernyanyi dan menari sambil membentangkan bendera raksasa.

Bendera yang berukuran panjang 500 meter kali lebar 300 meter membentang menutupi tribun 2 hingga tribun 12. Menurut informasi yang beredar, bendera itu mencatatkan rekor sebagai bendera suporter terbesar sedunia untuk level klub sepak bola.

"Sebenarnya atraksi kolosal ini belum bisa dikatakan sukses, karena masih ada sejumlah perbaikan di sana-sini yang perlu dilakukan," tutur Rafly Andriansyah, salah satu Aremania yang turut berpartisipasi.

"Sangat disayangkan, bendera raksasa sobek di tengah. Tapi apresiasi luar biasa untuk panitia dan para relawan Aremania," imbuhnya.


ONE INCREDIBLE BLUE, SIMBOL PERSATUAN AREMANIA 
 
BACK TO GALLERY PHOTO-VIDEO 

FOTO: PESONA AREMANITA HK


Istilah Arema gak ke mana-mana tapi ada di mana-mana juga berlaku di negeri Hongkong. Di sana banyak suporter Arema, terutama Aremanita.

Ketika Arema main di babak 16 besar AFC Cup 2014 menantang tuan rumah Kitchee SC (14.05), Aremanita HK pun menemani perjuangan Singo Edan. Mereka menggetarkan Stadion Mongkok Hongkong dengan berbagai atraksi. Berikut ini pesona Aremanita HK yang sempat terekam kamera Sam Abdul Rachman (Om Memen).









PESONA AREMANITA HK 
 
BACK TO GALLERY PHOTO-VIDEO 

Aremania Kuasai Jakarta (LAGI)


Kemenangan Arema 0-1 atas Persija Jakarta di lanjutan Indonesia Super Legaue (ISL) 2014, Minggu (04/05) tak lepas karena dukungan Aremania. Suporter fanatik Arema tersebut menguasai Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta dengan segala atraksi dan kreativitasnya.

Hubungan baik dengan The Jakmania selaku suporter tuan rumah memicu gelombang tur Aremania yang datang dari segala penjuru Nusantara. Bahkan demi menampung dukungan tersebut, manajemen Arema pun membuka posko pendaftaran tur serta menyediakan tiket.

Gelombang Aremania yang melakukan tur ke Jakarta tak hanya dari kalangan suporter semata. Dikonfirmasi dari Media Officer Arema, Sudarmaji, seluruh karyawan kantor Arema dan mess pemain pun ikut diboyong untuk memberikan dukungan langsung ke Jakarta.

Sebelum kick off, ribuan Aremania yang memadati sektor 21-22 SUGBK sempat membentangkan giant flag terbesar yang dibawa dari Malang. Akhirnya, di menit 81 seluruh Aremania pun bersorak merayakan gol Gustavo Lopez melalui eksekusi penalti.

"Perstama, saya mengucapkan terima kasih untuk para pemain yang sudah berjuang. Kedua, saya berterima kasih kepada Aremania yang sudah datang menjadi pemain ke-12. Terima kasih atas dukungan penuh kepada tim," ungkap pelatih Arema, Suharno usai laga.

Aremania Kuasai Jakarta (LAGI) 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

VIDEO: AREMANIA DI FINAL COPA INDONESIA 2005


Aremania sudah seringkali membirukan Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, tak terkecuali pada perhelatan Final Copa Indonesia 2005 (19.11.2005). Tak kurang dari 10.000 Aremania dari berbagai penjuru Nusantara hadir dalam partai puncak tersebut.

Hasilnya, dukungan penuh Aremania yang tak lelah bernyanyi sepanjang pertandingan sukses mengantarkan Arema mengangkat trophy juara Copa Indonesia untuk pertama kalinya. Gegap gempita Aremania menyambut kemenangan Singo Edan atas Persija Jakarta lewat partai dramatis yang berkesudahan dengan skor 3-4. Berikut ini cuplikan betapa semaraknya suasana GBK oleh nyanyian Aremania.


AREMANIA DI FINAL COPA INDONESIA 2005 
 
BACK TO GALLERY PHOTO-VIDEO 

Aremania Andalas Berpesta di Padang


Kemenangan Arema atas Semen Padang, Selasa (29/04) tak lepas dari andil suporter. Dalam laga Indonesia Super League (ISL) 2014 yang dimenangi Arema 0-1 itu, ratusan Aremania hadir langsung memberikan dukungan di Stadion Haji Agus Salim, Padang.

Tak hanya Aremania Padang selaku "tuan rumah", Aremania dari kawasan Pulau Sumatra seperti dari Palembang, AJambi, Riau, dll. turut hadir. Kesempatan tersebut sekaligus menjadi ajang untuk bersilaturahmi antar korwil se-Andalas.

Ratusan Aremania itu telah berkumpul di luar stadion sejak selepas sholat dhuhur. Selama pertandingan, Aremania mendukung skuat Singo Edan di tribun selatan Stdion Haji Agus Salim, Padang.

Alhasil, selain kerja keras para penggawa di atas lapangan, teriakan Aremania dari atas tribun yang memicu semangat berlipat Arema untuk tampil lebih edan. Akhirnya, gol semata wayang Thierry gathuessi di menit 57' sudah cukup menjadi alasan Aremania untuk berpesta di Padang.

Aremania Andalas Berpesta di Padang 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Aremania Duduki Hang Day Stadium Vietnam


Rangkaian away tour Aremania di ajang AFC Cup 2014 terus berlanjut. Setelah "menjajah" Selangor Malaysia dan Malee Maladewa, Stadion Hang Day markas Ha Noi T&T pun ditaklukkan oleh suporter fanatik Arema itu, Rabu (23/04).

Menurut Sudarmaji selaku Media Officer Arema, Aremania yang jauh-jauh datang dari bhumi Arema itu merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Malang. Kebetulan mereka sedang mengadakan kunjungan kerja ke Vietnam.

"Laga Ha Noi vs Arema juga dihadiri sekitar 20-an Aremania, mereka dari kalangan PNS Kabupaten Malang yang berkunjung ke Ha Noi," tutur Sudarmaji melalui akun jejaring sosialnya.

Selain para PNS itu, kabarnya ada sepasang Aremania dan Aremanita bernama Erik dan Dinda yang juga datang langsung dari Mergosono Malang. Bahkan keduanya sudah memesan tiket ke Vietnam jauh-jauh hari sebelum pertandingan berlangsung.

Seluruh Aremania yang hadir di tribun VIP Stadion Hang Day itu girang saat Cristian Gonzales sempat membuat Arema unggul lewat golnya di babak pertama. Sayang, kemenangan di depan mata sirna oleh dua gol balasan Nguyen Ngoc Duy di 45 menit kedua.

Sepertinya, rangkaian tur Aremania ini akan berlanjut di babak 16 besar. Sebab, Arema akan menantang wakil Hongkong, Kitchee FC di Stadion Mongkok, Hongkong, Rabu (14/05).

Aremania Duduki Hang Day Stadium Vietnam 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 

Tragedi Madiun, 10 April 2005 : Refleksi Aksi Heroik Aremania


Peristiwa sore itu mungkin gak akan pernah terlupakan bagi para Aremania, terutama yang jadi saksi hidup tragedi Madiun, 10.04.2005. Hari itu sedianya Aremania mendampingi Arema tercinta berlaga di Stadion Wilis (Madiun) menantang tuan rumah Persekabpas Pasuruan dalam lanjutan laga Divisi Utama 2005.

Berbekal sebuah kecintaan pada Arema, para Aremania melakukan tour ke Madiun. Segala resiko yang ada gak menghalangi semangat dan jiwa suporter yang ada di benak nawak-nawak Aremania kala itu. Meski harus menempuh puluhan kilometer, demi Arema apapun dilakukan. Itulah sebuah fanatisme yang terbalut dalam sebuah militansi suporter.

Namun arti fanatisme itu diartikan secara sempit oleh suporter lawan. Alih-alih sambutan hangat yang didapat, Madiun seolah-olah telah dipersiapkan oleh suporter lawan sebagai "kuburan" bagi Aremania yang datang ke sana. Konflik yang berujung pertumpahan darah pun gak bisa dihindarkan lagi.



Kalau boleh mengambil sisi positif dari tragedi tersebut, sebenarnya apa yang dilakukan para Aremania di sana hanyalah sebagai wujud kecintaan pada Arema. 2 nyawa yang melayang (atas nama Sam Abdul Rochiem dan Mat Togel) serta puluhan Aremania yang luka-luka semata-mata hanyalah membela diri serta panji-panji Arema. Apa yang dilakukan nawak-nawak Aremania itu gak lebih dari sebuah aksi heroik dalam rangka mempertahankan harga diri sebagai pendukung Arema yang diserang duluan.

Kini, beberapa tahun berselang, harapan kita Aremania tentu tragedi serupa gak terulang lagi. Biarlah nyawa yang gugur pada saat itu jadi sebuah pelajaran berharga bagi kita dan generasi-generasi Aremania selanjutnya. Mereka yang berjuang mempertahankan diri demi Arema tetaplah disebut pahlawan.

Let's pray for almarhum Sam Abdul Rochiem dan Mat Togel!!

Tragedi Madiun, 10 April 2005 
 
BACK TO AKSI TRIBUN AREMANIA 
AREMA FC